Jumat, 07 Januari 2011

PSIKOLOGI BELAJAR : PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN ASAS PEMBELAJARAN


PRINSIP - PRINSIP BELAJAR DAN ASAS PEMBELAJARAN

Salah satu tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu saja tidak dapat dilakukan sembarangan , tetapi harus menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bertindak secara tepat. Oleh karenanya, sebagai calon guru perlu mempeajari teori dan prinsip belajar yang dapat membmbing aktivitas guru dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

            Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Guru dapat terhindar dari tindakan-tindakan yang kelihatannya baik tetap nyatanya tidak berhasil menigkatkan proses belajar siswa. Selain itu dengan teori dan prinsip-prinsip belajar ia memiliki dan mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar.

A. Prinsip-Prinsip Belajar

            Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berperpengalaman,pengulangan,tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.

1. Perhatian Dan Motivasi

            Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori kegiatan belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadinya belajar (Gage dan Berliner, 1984: 335). Perhatian terhadap pembelajaran akan timbul apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
            Disamping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage dan Barliner, 1984: 372). “Motivation is the concept we use when we describe the force action on or within an organism to intiate and direct behavior” demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbert L, 1986: 3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Sebagai alat motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan.

            Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Karenanya ,bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

            Sikap siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya. Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, dari orang tua, teman, dan sebagainya. Motivasi Intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Motivasi ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya.

2. Keaktifan

            Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif . Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Jhon Dewey misalnya mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri , maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sebagai pembimbing dan pengarah.(Jhon Dewey 1916, dalam Davies , 1937; 31).

            Menurut teori kognitif, belajar menunjukan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa yang mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, 1984: 267). Thomdike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “law of exercise” yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. “Manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial” (Mc Keachie, 1976: 230 dari Gredler MEB terjemahan Munandir, 1991: 105).
3. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

            Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggunjawab terhadap hasilnya. Pentingnya keterlibatan langsung dalam dikemukakan oleh Jhon Dewey dengan “learning by doing”-nya . Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung.

            Keterlibatan siswa dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan ,dalam penghayatan dan internalisasi dalam pembentukkan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.

4. Pengulangan

            Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berfikir dsb. Teori lain menekankan prinsip pengulangan adalah teori asosiasi atau koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thomdike. Berangkat dari salah satu hukumnya “Law of exercise” ia mengemukakan bahwa belajar adalah pebentukan hubungan antara stimulus dan respons dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.

Kalau pada koneksionisme belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons maka pada psikologi conditioning respons akan timbul bukan karena saja oleh stimulus,tetapi oleh stimlus yang dikondisikan. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan dan belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.

5. Tantangan

            Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai , tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar maka timbullah motif untuk mengatsi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Agar pada anak timbul motif untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya.

            Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep ,prinsip-prinsip, dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Penggunaan metode eksperien, inkuiri, diskoveri, juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih,giat dan sunguh-sungguh.

6. Balikan dan Penguatan

            Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari  B.F Skinner, kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya ,maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Siswa akan lebih bersemangat apabila menegetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil apalasi yang baik akan merupakan balikan yang menyenagkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapatkan hal yag baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu akan mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Forat berupa sajian tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan.

7. Perbedaan Individual

            Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Sistem klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

            Pembelajaran yang klasikal yang mengabaiakan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media intruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klsikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan bagi anak-anak yang kurang.

            Impikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tapak daam setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Namun demikian, perilaku disadari bahwa implementasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tidak semuanya terwujud dala setiap proses pembelajaran.

a. Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar Bagi Siswa

             Siswa sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran, dengan alasan apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip-prinsip belajar. Justru para siswa akan berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap diri mereka.

1. Perhatian dan Motivasi

            Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu memberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya.

            Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan engembangkan secara terus menerus. Untuk dapat membangkitkan dan mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus menerus, siswa dapat melakukannya dengan menentukan/mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai, menanggapi secara positif pujian/dorongan dari orang lain, menentukan terget/sasaran penyelesaian tugas tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya.

2. Keaktifan

            Sebaga “primus motor” dalam kegiatan pembelajarn maupun kegiatan beljar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, pembelajar dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari suatu reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan perilaku sejenis lainnya.

3. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

            Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mepelajarinya sendiri. Tidak ada seorang pun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Devies, 1987: 32). Pernyataan ini secara mutlakmenuntut adanya keterlibatan langsung dari setiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran. Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segan-segan mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan kepada mereka. Dan keterlibatan langsung ini, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi siswa misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan lapangan bola voli, siswa membaca puisi didepan kelas, dan perilaku sejenis lainnya.

4. Pengulangan

            Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti (Devies, 1987: 32). Dari pernyataan inilah pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang untuk satu macam permasalahan. Dengan kesadaran ini, diharapkan siswa tidak merasa bosan dalam melakukan pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip pengulangan, diantaranya menghafal unsur-unsur kimia setiap valensi, mengerjakan soal-soal latihan, menghafa nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah.

5. Tantangan

            Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pernyataan bahwa apabila siswa deberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia akan lebih termotivasi untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat seacara lebih baik (Devies, 1987: 32). Hal ini berarti selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh, memproses, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran. Bentuk-bentuk perilaku siswa yang merupakan implikasi dari prinsip tantangan ini diantaranya adalah melakukan eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau mencari tahu peecahan suatu masalah.

6. Balikan dan Penguatan

            Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri. Seorang siswa belajar lebih banyak bilaman setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcemen) ( Devies, 1987: 32). Hal ini timbul karena kesadaran adanya kebutuhn untuk memproleh balikan dan sekaligus penguatan bagi setiap kegiatan yang dilakukannya. Untuk memperoleh balikan penguatan bentuk-bentuk perilaku siswa yang memungkinkan di antaranya adalah dengan segera mencocokan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor yang dicapai, atau menerima teguran dari guru/orang tua karena hasil belajar yang jelek.

7. Perbedaan Individual

            Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatan)nya sendiri untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar(Devies, 1987: 32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan orang lain, akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran belajar bagi dirinya sendiri. Implikasi adanya prinsip perbedaan individal bagi siswa di antaranya adalah menentukan tempat duduk di kelas, menyusun jadwal belajar, atau memilih bahwa implikasi adanya prinsip perbedaan individu bagi siswa dapat beberapa perilaku fisik maupun psikis.
b. Implikasi Prinsip-prinsip Belajar bagi Guru

            Guru sebagai orang kedua dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari adanya prinsip-prinsip belajar. Guru sebagai penyelenggara dan pengelola kegiatan pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar ini. Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru tertampak pada rencana pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru terwujud dalam perilaku fisik dan psikis mereka. Kesadaran adanya prinsip-prinsip belajar yang terwujud dalam perilaku guru, dapat diharapkan adanya peningkatan kualitas pembelajaran yang diselenggarakan.

1. Perhatian dan Motivasi

            Guru sejak merencanakan kegiatan pebelajaranya sudah memikirkan perilakunya terhadap siswa sehingga dapat menarik perhatian dan menimbulkan motivasi siswa dan tdak berhenti pada rencana pembelajarannya dalam pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Implikasi prinsip perhatian bagi guru tertampak pada perilaku-perilaku sebagai berikut :
1) Guru menggunakan metode secara bervariasi
2) Guru menggunakan media sesuia dengan tujuan belajar dan materi yang di ajarkan.
3) Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton.
4) Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan mebimbing (direction question)

            Sedangkan iplikasi prinsip motivasi bagi guru tertampak pada prilaku-perilaku yang di antaranya :
1) Memilih bahan ajar sesuai minat siswa
2) Menggunakan metode dan teknik mengajar yang disukai siswa.
3) Mengoreksi segera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberitahukan hasilnya kepada siswa.
4) Memberikan pujian verbal atau non-verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan yang sedang dipelajari siswa.
5) Memberitahukan nilai guna dari pelajaran yang sedang dipelajari.

2. Keaktifan

            Para guru memberikan kesempatan belajar kepada para siswa, memberikan peluang dilaksanakannya implikasi prinsip keaktifan bagi guru secara optimal. Peran guru mengorganisasikan kesempatan belajar bagi masing-masing siswa berarti mengubah peran guru dari bersifat didaktis menjadi lebih bersifat mengindividualis, yaitu menjamin bahwa setiap siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan di dalam kondisi yang ada (Sten, 1988: 224). Hal ini berarti pula bahwa kesempatan yang diberikan guru akan menuntut siswa selalu aktif mencari, memperoleh, dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat menimbulkan keaktifan belajar pada siswa, maka guru di antaranya dapat melaksanakan perilaku-perilaku berikut :
1) Menggunakan multimetode dan multimedia.
2) Memberikan tugas secara individual dan kelompok.
3) Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kelompok kecil (beranggota tidak lebih dari 3 orang).
4) Memberikan tugas ubtuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal yang kurang jelas.
5) Mengadakan tanya jawab dan diskusi

3. Keterlibatan Langsung / Berpengalaman

            Guru harus menyadari bahwa keaktifan membutuhkan keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan pembelajaran. Namun demikian, perlu diingat bahwa keterlibatan langsung secara fisik tidak menjamin keaktifan belajar. Untuk dapat melibatkan siswa secara fisik, mental, emosional, dan intelektual dalam kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik isi pelajarn. Pelajarn sebagai implikasi prinsp keterlibatan langsung/berpengalaman diantaranya :
1) Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok kecil.
2) Mementingkan eksperimen langsung oleh siswa dibandingkan dengan demonstrasi.
3) Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa.
4) Memberikan tugas kepada siswa untuk mempraktekkan gerakkan psikomotorik yang dicontohkan.
5) Melibatkan siswa mencari informasi/pesan dari sumber informasi diluar kelas atau luar sekolah.
6) Melibatkan siswa dalam merangkum atau menyimpulkan informasi pesan pembelajaran.

            Implikasi lain dari adanya prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman bagi guru adalah kemampuan guru untuk bertindak sebagai pengelolakegiatan pembelajaran yang mapu mengarahkan, membimbing, dan mendorong siswa ke arah tujuan pengajaran yang ditetapkan.

4. Pengulangan

            Implikasi prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan dengan yang tidak membutuhkan pengulangan. Hal ini perlu dimiliki oleh guru karena tidak semua pesan pembelajaran membutuhkan pengulangan. Pengulangan terutama dibutuhkan oleh pesan-pesan pembelajaran yang harus dihafalkan secara tetap tanpa ada kesalahan sedikit pun. Selain itu, pengulangan juga diperlukan terhadap pesan-pesan pembelajaran yang membutuhkan latihan. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan di antaranya :
1) merancang pelaksanaan pengulangan.
2) Mengembangkan/merumuskan soal-soal latihan.
3) Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yaitu harus diulang.
4) Mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan, dan
5) Membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi.

5. Tantangan

            Apabila guru menginginkan siswa selalu berusaha mencapai tujuan, maka guru harus memberikan tantangan pada siswa dalam kegiatan pembelajarannya. Tantangan dalam kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan oleh guru melalui bentuk kegiatan, bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip tantangan di antaranya :
1) Merancang dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukannya secara individual atau dalam kelompok kecil (3-4 orang).
2) Memberikan tugas pada siswa memecahkan masalah yang membutuhkan informasi dari orang lain dari luar sekolah sebagai sumber informasi.
3) Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang selesai disajikan.
4) Mengembangkan bahan pelajaran (teks, hand out, modul, dan yang lain) yang memperhatikan kebutuhan siswa untuk mendapatkan tantangan didalamnya, sehingga tidak harus semua pesan pembelajaran disajikan secara detail tanpa memberikan kesempatan siswa mencari dari sumber lain.
5) Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi sendiri.
6) Guru merancang dan mengelola kegatan diskusi untuk menyelenggaraan masalah-masalah yang disajikan dalam topik diskusi.

6. Balikan dan Penguatan

            Balikan dapat diberikan secara lisan maupun tertulis, baik secara individual ataupun kelompok klasikal. Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran harus dapat menentukan bentuk, cara, serta kapan balikan dan penguatan diberikan. Agar balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa. Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi guru, berwujud perilaku-perilaku di antaranya :
1) Memberitahukan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah dijawab siswa secara benar ataupun salah.
2) Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu yang telah ditentukan.
3) Memberikan catatan-catatan pada hasil kerja siswa (berupa makalah, laporan, kliping pekerjaan rumah), berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil kerja pembelajaran.
4) Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru, disertai skor dan catatan-catatan bagi pebelajar.
5) Mengumumkan atau mengkonfirmasikan peringkat yang diraih setiap siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes.
6) Meberikan anggukan atau acungan jempol atau isyarat lain kepada siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.
7) Memberikan hadiah kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas.

7. Perbedaan Individual

            Setiap guru tentunya harus menyadari bahwa menghadapi 30 siswa dalam satu kelas, berarti menghadapi 30 macam keunikan atau karakteristik. Selain karakteristik kelas, guru harus menghadapi 30 siswa yang berbeda karakteristiknya satu dengan yang lainnya. Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajarn dituntut untuk memberikan perhatian kepada semua keunikan yang melekat pada tiap siswa. Dengan kata lain ,guru tidak mengasumsikan bahwa siswa dalam kegiatan pembelajaran yang diselenggarakannya merupakan satu kesatuan yang memiliki karakteristik yang sama. Konsekuensi yang logis adanya hal ini, guru mampu melayani setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang per orang. Implikasi prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud perilaku-perilaku yang di antaranya :
1) Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya.
2) Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran.
3) Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan, dan
4) Memberikan remediasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan.

            Dari prinsip-prinsip belajar yang berimplikasi bagi siswa ataupun guru, dalam satu kegiatan yang dilakukan siswa maupun guru, dapat menemukan perwujudan dari prinsip-prinsip belajar lebih dari satu. Kenyataan bahwa dalam satu kegiatan pembelajaran terdapat lebih dari satu prinsip belajar yang tampak, menuntut guru untuk benar-benar menguasai dan terlebih menandai perwujudan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan pembelajaran.
























DAFTAR PUSTAKA

Davies, Ivor K. (penerjemah: Sudarsono S.,dkk.). 1987. Pengelolaan
Belajar. Jakarta : C.V. Rajawali dan PAUT-UT.

Gage, N.L.,dan David C.Berliner. 1984. Educational Psychology.
            Chicago: Rand Mc Nally Collage Publushing Company.

Gredler, Margaret E. Bell. (penerjemah Munandir). 1991. Belajar dan
            Membelajarkan. Jakarta: C.V Rajawali dan PAU-UT.

Petri, Herbert L..1986. Motivation: Theory and Research. Belmong,
            California: Wadsworth Publishing Company.

PSIKOLOGI BELAJAR : MOTIVASI BELAJAR


MOTIVASI BELAJAR

Motivasi belajar sangat penting dalam pengembangan diri, sebab pengembangan diri adalah belajar, belajar adalah pengembangan diri. Jika Anda ingin lebih sukses dibanding pencapaian Anda saat ini, kuncinya ialah jangan pernah berhenti belajar. Hanya dengan belajarlah Anda akan berkembang dan menjadi lebih baik. Jadi untuk mengukur sejauh mana Anda bisa berkembang ialah dengan mengukur sejauh mana motivasi belajar. Motivasi belajar merupakan suatu keadaan atau kondisi yang mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk belajar sesuatu atau atau melakukan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.

Menurut Mc. Donald, yang dikutip Oemar Hamalik (2003:158) .motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks.Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

1. Pengertian Motivasi

Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi yang pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara meotivasi dari dalam ialah motivasinya muncul dari inisiatif diri kita. Pada dasarnya motivasi itu hanya dua, yaitu untuk meraih kenikmatan atau menghindari dari rasa sakit atau kesulitan. Uang bisa menjadi motivasi kenikmatan maupun motivasi menghindari rasa sakit. Jika kita memikirkan uang supaya kita tidak hidup sengsara, maka disini alasan seseorang mencari uang untuk menghindari rasa sakit. Sebaliknya ada orang yang mengejar uang karena ingin menikmati hidup, maka uang sebagai alasan seseorang untuk meraih kenikmatan. 

Tokoh-Tokoh yang mengartikan Motivasi :
·         Pengertian motivasi menurut Wexley & Yukl adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.
  • Sedangkan menurut Mitchell motivasi mewakili proses-proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela yang diarahkan ke tujuan tertentu.
  • Gray lebih suka menyebut pengertian motivasi sebagai sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
  • Morgan mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku, tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut, dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut.
  • McDonald memilih pengertian motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula.
  • Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perfoman pekerjaan.
  • T. Hani Handoko mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
  • A. Anwar Prabu Mangkunegara, memberikan pengertian motivasi dengan kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara prilaku yang berubungan dengan lingkungan kerja.
  • H. Hadari Nawawi mendefinisikan motivasi sebagai suatu keadaan yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar.
  • Lain lagi dengan Henry Simamora, pengertian motivasi menurutnya adalah Sebuah fungsi dari pengharapan individu bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendaki.
  • Soemanto secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkah laku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
Dari pengertian-pengertian motivasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu keadaan atau kondisi yang mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk melakukan sesuatu atau kegiatan yang dilakukannya sehingga ia dapat mencapai tujuannya.
2. Pentingnya Motivasi dan Teori tentang Motivasi

v     Pentingnya Motivasi

Motivasi dapat dipandang sebagai suatu rantai reaksi yang dimulai dari adanya suatu kebutuhan, kemudian timbul keinginan untuk memuaskannya (mencapai tujuan), sehingga menimbulkan ketegangan psikologis yang akan mengarahkan perilaku kepada tujuan (kepuasan). Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:
  • Durasi kegiatan;
  • frekuensi kegiatan;
  • persistensi pada kegiatan;
  • ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan;
  • devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan;
  • tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan;
  • tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan;
  • arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
v     Teori Motivasi
Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain :
a. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H.Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :
  • Fisiologis
  • Keamanan, keselamatan dan perlindungan
  • Sosial, kasih sayang, rasa dimiliki
  • Penghargaan, rasa hormat internal seperti harga diri, prestasi
  • Aktualisasi diri, dorongan untuk menjadi apa yang mampu ia menjadi.
Menurut maslow, jika seorang pimpinan ingin memotivasi seseorang, maka ia perlu memahami sedang berada pada anak tangga manakah posisi bawahan dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu atau kebutuhan dia atas tingkat itu.
b. Teori Motivasi X dan Y
Teori ini dikemukakan oleh Douglas McGregor yang menyatakan bahwa dua pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia, pada dasarnya satu negatif (teori X) yang mengandaikan bahwa kebutuhan order rendah mendominasi individu, dan satu lagi positif (teori Y) bahwa kebutuhan order tinggi mendominasi individu.
c. Teori Motivasi - Higiene
Dikemukakan oleh psikolog Frederick Herzberg, yang mengembangkan teori kepuasan yang disebut teori dua faktor tentang motivasi.
Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas atau faktor-faktor motivator iklim baik atau ekstrinsik-intrinsik tergantung dari orang yang membahas teori tersebut. Faktor-faktor dari rangkaian ini disebut pemuas atau motivator yang meliputi:
·                     - Prestasi (achievement)
·                     - Pengakuan (recognition)
·                     - Tanggung Jawab (responsibility)
·                     - Kemajuan (advancement)
·                     - Pekerjaan itu sendiri (the work itself)
·                     - Kemungkinan berkembang (the possibility of growth)

d. Teori Motivasi kebutuhan McClelland
Teori ini memfokuskan pada tiga kebutuhan, yaitu :
  • - prestasi (achievement)
  • - Kekuasaan (power)
  • - Afiliasi (pertalian)
e. Teori Motivasi Harapan - Victor Vroom
Teori ini berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu, dan pada daya tarik dari keluaran bagi individu tersebut.
Teori pengharapan mengatakan seorang karyawan dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantarkan ke suatu penilaian kinerja yang baik, suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi karyawan tersebut.
f. Teori Motivasi Keadilan
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil dalam pekerjaan. Individu bekerja untuk mendapat tukaran imbalan dari organisasi.
g. Teori Reinforcement
Teori motivasi ini tidak menggunakan konsep suatu motif atau proses motivasi. Sebaliknya teori ini menjelaskan bagaimana konsekuensi perilaku dimasa yang lalu mempengaruhi tindakan di masa yang akan datang dalam proses pembelajaran. Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu, maka akan banyak menentukan kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.
3 Jenis dan Sifat Motivasi
A. Jenis Motivasi
1) Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia.
2) Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Hal ini berbeda dengan motivasi primer. Motivasi sosial atau motivasi sekunder memegang peran penting bagi kehidupan manusia. Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap yakni : (a) merupakan kecenderungan berpikir, merasa, kemudian bertindak. (b) memiliki daya dorong bertindak, (c) relatif bersifat tetap, (d) berkecenderungan melakukan penilaian, dan (e) dapat timbul dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah.
Perilaku juga terpengaruh oleh emosi. Emosi menujukkan adanya sejenis kegoncangan seseorang. Kegoncangan tersebut disertai proses jasmani, perilaku, dan kesadaran. Perilaku juga terpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya. Pengetahuan yang dipercaya tersebut adakalanya berdasarkan akal, ataupun tak berdasar akal sehat. Pengetahuan tersebut dapat mendorong terjadinya perilaku. Perilaku juga terpengaruh oleh adanya kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan merupakan perilaku menetap dan berlangsung otomatis. Kemungkinan besar perilaku tersebut merupakan hasil belajar. Kemauan merupakan tindakan mencapai tujuan secara kuat.
B. Sifat Motivasi
Motivasi seseorang dapat bersumber dari (i) dalam diri sendiri, yang dikenal sebagai motivasi internal, dan (ii) dari luar seseorang yang dikenal dengan motivasi eksternal. Disamping itu kita bisa membedakan motivasi intrinsic ynag dikarenakan orang tersebut senang melakukannya. Menurut Monks, motivasi berprestasi telah muncul pada saat anak berusia balita. Hal ini berarti bahwa motivasi intrinsic perlu diperhatikan oleh para guru sejak TK, SD, dan SLTP. Pada usia ini para guru masih memberi tekanan pada pendidikan kepribadian khususnya disiplin diri untuk beremansipasi. Penguatan terhadap motivasi intrinsic perlu diperhatikan, sebab disiplin merupakan kunci keberhasilan belajar (Monks, Knoers, Siti Rahayau, 1989 ; 161-164).
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya. Orang berbuat sesuatu, karena dorongan dari luar seperti adanya hadiah dan menghindari hukuman.
Motivasi intrinsic dan ekstrinsik dapat dijadikan titik pangkal rekayasa pedagogis guru. Sebaiknya guru mengenal adanya motivasi-motivasi tersebut. Untuk mengenal motivasi yang sebenarnya, guru perlu melakukan penelitian. Adakalanya guru menghadapi siswa ynag belum memiliki motivasi belajar yang baik. Dalam hal ini seyogianya guru berpegang pada motivasi ekstrinsik, dengan menggunakan penguat berupa hadiah atau hukuman, seyogianya guru memperbaiki disiplin diri siswa dalam beremansipasi.
4. Bentuk motivasi dalam belajar
Dalam perilaku belajar terdapat motivasi belajar. Motivasi belajar tersebut ada yang instrinsik atau ekstrinsik. Penguatan motivasi-motivasi belajar berada di tangan para guru atau pendidik dan anggota masyarakat lain.
1. Unsur-unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
a. Cita-cita atau Aspirasi Siswa
Motivasi belajar tamapak pada keinginan anak sejak kecil. Keberhasilan mencapai kainginan menumbuhkan kemuan bergiat, bahkan dikemudian hari menumbuhkan cita-cita dalam kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kamauan, bahasa, dan nilai-nilai kehidupan. timbulnya cita-cita juga dibarengi oleh perkembangan kepribadian. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsic ataupun ekstrinsik, sebab tercapainya tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan akulturasi diri. (Monks, 1989: 241-260; Schein, 1991:87-110; singgih Gunarsa, 1990: 183-199).
b. Kemampuan Siswa
Keinginan seorang perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksakanan tugas-tugas perkembangan.
c. Kondisi siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi rohoni dan jasmani mempengaruhi motivasi belajar.
d. Kondisi Lingkungan Siswa
Kondisi sekolah yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan perlu dipertinggi mutunya. Dengan lingkungan yang aman, tenteram, tertib, dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Pembelajar yang masih berkembang jiwaraganya, lingkungan yang semakin bertambah baik berkat dibangun, merupakan kondisi dinamis yang bagus bagi pembelajaran. Guru professional diharpkan mampu memanfaatkan sutat kabar, majalah, siaran radio, televise, dan sumber belajar di sekitar sekolah untuk memotivasi belajar.
f. Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa
Upaya guru membelajarkan siswa terjadi di sekolah dan di luar sekolah. Upaya membelajarkan disekolah meliputi hal-hal berikut : (i) menyelenggarakan tertib belajar di sekolah (ii) membina disiplin belajar dalam setiap kesempatan, seprti memanfaatkan waktu dan pemeliharaan fasilitas sekolah. (iii) membina belajar tertib pergaulan, dan (iv) membina belajar tertib lingkungan sekolah.
2. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar
a. Optimasi Penerapan Prinsip Belajar
Upaya pembelajaran terkait dengan beberapa prinsip belajar.Beberapa prinsip belajar tersebut antara lain :
- Belajar menjadi bermakna bila siswa memahami tujuan belajar.
- Belajar menjadi bermakna bila siswa dihadapkan pada pemecahan masalah yang menantangnya
  - Belajar menjadi bermakna bila guru mampu memustkan segala kemampuan mental siswa dalam program kegiatan tertentu.
- Sesuai dengan perkembangan jiwa siswa, maka kebutuhan bahan-bahan belajar siswa semakin bertambah, oleh karena itu guru perlu mengatur bahan dari yang paling sederhana sampai yang paling menantang.
- Belajar menjadi menantang bila siswa memahami prinsip penilaian dan faedah nilai belajarnya bagi kehidupan dikemudian hari.
b. Optimasi Unsur Dinamis Belajar dan Pembelajaran
Seorang siswa akan belajar dengan seutuh pribadinya. Perasaan, kemauan, pikiran, perhatian, fantasi, dan kemapuan yang lain tertuju pada belajar. Meskipun demikian ketertujuan tersebut tidak selamanya berjalan lancar. Ketidak sejajaran tersebut disebabkan kelelahan jasmani atau mentalnya., ataupun naik turunnya energi jiwa.
c. Optimasi Pemanfaatan pengalaman dan Kemampuan
Perilaku belajar siswa merupakan rangkaian tindak-tindak belajar setiap hari. Perilaku belajar setiap hari bertolak dari jadwal pelajaran sekolah.
Guru adalah “penggerak” perjalanan belajar bagi siswa. Sebagai penggerak guru perlu memahami dan mencatat kesukaran-kesukaran siswa. Sebagai fasilitator belajar, guru diharapkan memantau mengatasi kesukaran belajar. “Bantuan mengatasi kesukaran belajar” perlu diberikan sebelum siswa putus asa.
d. Pengembangan Cita-cita dan Aspirasi Belajar
Upaya mendidik dan mengembangkan cita-cita belajar dapat dilaukan dengan berbagai cara. Cara-cara mendidik dan mengembangkan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain sebagai berikut :
1. Guru menciptakan suasana belajar yang menggembirakan.
2. Guru mengikutsertakan semua siswa untuk memelihara fasilitas belajar.
3. Guru mengajak siswa untuk membuat perlombaan unjuk belajar seperti lomba baca, lomba karya tulis ilmiah, lomba tanam bunga, lomba lukis, lmba kerajinan.
4. Guru mengajak serta orng tua siswa untuk memperlengkap fasilitas belajar seperti buku bacaan, majalah, alat olah raga, dan kebun bunga.
5. Guru memberanikan siswa untuk mencatat keinginan-keinginan di notes pramuka, dan mencatat keinginan yang tercapai dan tak tercapai.
6. Guru bekerjasama dengan pendidik lain seperti orang tua, ulama atau pendeta, pramuka, dan para instruktur pendidik pemuda, untuk mendidik dan mengembangkan cita-cita belajar sepanjang hayat.
MASALAH MASALAH BELAJAR

            Tugas seorang guru adalah membelajarkan siswa. Hal ini bahwa bila guru bertindak mengajar ,maka siswa diharapkan berajar atau belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar disekolah ditemukan hal-hal berikut. Guru telah mengajar dengan baik. Ada siswa belajar giat. Ada siswa pura-pura belajar. Ada siswa belajar setengah hati. Bahkan ada siswa yang tidak belajar. Guru bingung menghadapi keadaan siswa. Guru tersebut berkonsultasi dengan konselor sekolah. Kedua petugas pendidikan tersebut menemukan adanya masalah-masalah yang dialami siswa. Ada masalah yang dapat dipecahkan oleh konselor sekolah. Ada juga masalah yang harus di konsultasikan dengan ahli psikolog. Guru menyadari bahwa dalam tugas pembelajaran ternyata ada masalah-masalah belajar yang dihadapi oleh siswa. Bahkan guru memahami bahwa lingukngan siswa juga dapat menjadi sumber timbulnya masalah-masalah belajar.

            Guru profesional berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil. Ia menemukan bahwa ada bermacam-macam hal yang menyebabkan siswa belajar. Ada siswa yang tidak belajar karena dimarahi oleh orang tua. Ada siswa enggan belajar karena pindah tempat tinggal. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru mengajar topik tertentu. Ada juga siswa yang belajar dengan giat karena ia bercita-cita menjadi seorang ahli. Beracam-macam keadaan siswa tersebut menggabarkan bahwa pengethauan tentang masalah-masalah belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru dan calon guru.

A. Masalah – Masalah Intern Belajar

            Dalam interaksi belajar mengajar ditemukan bahwa proses belajar yang dilakukan
Oleh siswa merupakan kunci keberhasilan belajar. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenan dengan bahan belajar. Aktivitas mempelajari bahan belajar tersebut memakan waktu. Lama waktu mempelajari tergantung pada jenis dan sifat bahan. Lama waktu mempelajar juga tergantung pada kemampuan siswa. Jika bahan belajarnya sukar ,dan siswa krang mampu , maka dapat diduga bahwa proses belajar memakan waktu yang lama. Sebaliknya jika proses belajar mudah,maka proses belajar memakan waktu singkat. Aktivitas belajar tersebut juga dapat diketahui oleh guru dari perlakuan siswa terhadap bahan belajar.
           
Pada kegiatan belajar mengajar disekolah ditemukan dua subjek, yaitu siswa dan guru. Dalam kegiatan belajar, siswalah yang memegang peranan penting. Dalam proses belajar ditemukan tiap tahap penting, yaitu (1) Sebelum belajar. Hal ini yang berpengaruh pada belajar ,menurut Biggs & Telfer dan Winkel, adalah ciri khas pribadi, minat, kecakapan, pengalaman, dan keinginan belajar. (2) Proses belajar, yaitu semua kegiatan yang diaami dan dihayati oleh siswa sendiri . (3) Sesudah Belajar, merupakan tahap untuk hasil proses belajar. (4) Proses belajar, merupakan kegiatan mental mengolah pada bahan belajar atau pengalaman yang lain. (5) Proses belajar yang berhubungan dengan bahan belajar tersebut, dapat diamali oleh guru, dan umumnya dikenal sebagai aktivitas belajar siswa.
            Guru adalah pendidik yang membelajarkan siswa. Dalam usaha pembelajaran siswa, makan guru melakukan (6) Pengorganisasian belajar, (7) Penyajian bahan belajar dengan pendekatan pembelajaran tertentu dan (8) Melakukan evaluasi hasil belajar.
           
Proses belajar merupakan yang kompleks. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidak terjadi belajar. Untuk bertindak belajar siswa belajar menghadapi masalah-masalah secara inetrn. Jika siswa tidak dapat menghadapi masalahnya, maka ia tidak belajar dengan baik. Faktor Intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh pada proses belajar sebagai berikut :

1. Sikap Terhadap Belajar

Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu mengakibatkan trjadinya sikap menerima, menolak atau mengabaikan. Sikap menerima, menolak ataupun mengabaikan sesuatu kesempatan belajar urusan pribadi siswa. Oleh karena itu siswa mempertimbangkan masak-masak akibat sikap terhadap belajar.

2. Motivasi Belajar
           
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi belajar pada diri siswa dapat menjadi lemah. Lemahnya motivasi, atau tiadanya motivasi dapat melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu hasil belajar akan menjadi rendah. Agar siswa dapat memeliki motivasi belajar yang kuat pada tempatnya diciptakan suasana yang menggembirakan.

3. Konsentrasi Belajar
           
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian pada pelajaran, guru perl menggunakan bermacam-macam strategi belajar-mengajar, dan memperhitungkan waktu belajar serta istirahat. Dalam pelajaran klasikal menurut Rooijakker, kekuatan perhataian selama 30menit  telah menurun. Ia menyarankan agar guru memberkan istirahat selingan selama beberapa menit.

4. Mengolah Bahan Belajar
           
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa utnuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar berupa pengetahuan .nilai kesusilaan, nilai agama, nilai kesenian, serta keterampilan mental dan jasmani. Kemampuan menerima isi dan cara pemerolehan tersebut dapat dikembangkan dengan belajar berbagai mata pelajaran.

5. Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
           
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek dan waktu yang lama. Kemampuan menyimpan waktu pendek berarti hasil belajar cepat dilupakan. Kemampuan menyimpan waktu lama berarti hasil belajar tetap dimiliki siswa. Pemilikan itu dalam waktu bertahun-tahun,bahkan sepanjang hayat. Biggs dan Telfer menjelaskan proses belajar diranah kogintif tentang hal pengolahan, penyimpanan, dan penggunaan kembali pesan.
3
Proses Pengolahan

Proses Berkesadaran
Memiliki Tugas
Latihan Menggunakan
Menarik Kesimpulan
Unjuk Hasil
4
Proses Penyimpanan

Ingatan Jangka panjang
Penghayatan
Latihan ulang

1
Proses Penerimaan

Perhatian
Seleksi
Pengkodean


2
Proses Pengaktifan

Penguatan Pesan baru
Pembangkitan Pesan dan
Pengalaman lama

5
Pemanggilan



 






Dari Bagan diatas diketahui bahwa proses belajar terdiri dari proses penerimaan, pengolahan, penyimpanan, dan pengaktifan yang berupa penguatan serta pembangkitan kembali untuk dipergunakan. Dalam kehidupan sebenarnya tidak berarti bahwa semua proses terebut berjalan lancar. Ada siswa yang mengalami kesukaran dalam proses penerimaan, akibatnya, proses-proses penguatan, pengolahan, penyimpanan, dan penggunaan akan terganggu. Ada siswa yang mengalami kesukaran dalam proses penyimpanan. Akibatnya proses penggunaan hasil belajar akan terganggu . Adanya gangguan dalam kelima proses tersebut, baik sendiri-sendiri atau gabungan, akan menghasilkan hasil belajar yang kurang baik.

6. Menggali Hasul Belajar yang Tersimpan
           
Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam pesan baru, maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali, atau mengaitkannya dengan bahan lama. Proses menggali pesan lama tersebut dapat berwujud (i) trensfer belajar atau (ii) untuk prestasi belajar.
           
Ada kalanya siswa juga mengalami gangguan dalam menggali dan kesan lama. Gangguan tersebut bukan hanya bersumber pada pemanggilan atau pembangkitannya sendiri. Gangguan tersebut dapat bersumber dari kesukaran penerimaan,pengolahan, dan penyimpanan. Jika siswa tidak berlatih sungguh-sungguh,maka siswa tidak berketerampilan (intelektual, sosial, moral, dan jasmani).

7. Kemampuan Berprestasi atau Unjuk Hasil Belajar

Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh oleh proses-proses penerimaan, pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk pembangkitan pesan dan pengalaman.

1. Konsentrasi        2.Memgolah       3.Menyimpan          4.Menggali      5.Berprestasi 


        

        Keluar                   Keluar                                                               Lupa

Dari bagan diatas melukiskan suatu proses belajar yang memungkinkan terjadinya lupa. Proses tersebut yaitu (1) Pebelajar melakukan konsentrasi terhadap bahan ajar,pemusatan tersebut dapat menurun karena lelah sehingga bahan ajar yang keluar dan tak terterima. (2) Pembelajar mengolah bahan ajar yang terterima. (3) Apa yang terolah akan disimpan,tetapi ada bagian yang keluar. Dengan demikian siswa menyimpan bagian bahan ajar yang terolah baik. (4) Dalam menghadapi tugas-tugas belajar lanjut, maka siswa akan menggali pengetahuan dan pengalaman belajar yang tersimpan. (5) Pebelajar menggunakan pesan pesan yang telah dipelajari untuk berprsetasi. Hal ni menunjukan bahwa proses berkonsentrasi dan pengolahan pesan dapat dipertinggi mutunya.

8. Rasa Percaya Diri
           
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan rekan sejawat. Gejala ini merupakan masalah pembelajaran diri yang musykil.

9. Inetelegansi dan Keberhasilan Belajar
           
Menurut Wechler (Monks & Knoers, Siti Rahayu Hadianto) intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berfikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Intelegensi normal bila nilai IQ menunjukan angka 85-115. Diduga 70% penduduk memiliki IQ normal. Sedangkan yang ber IQ dibawah 70% diduga sebesar 15% penduduk, dan yang ber IQ 115-145 sebesar 15%. Yang ber IQ 130-145 hanya sebesar 2% penduduk. Yang menjadi masalah adalah siswa yang memiliki kecakapan dibawah normal.

10. Kebiasaan Belajar
           
Dalam kegatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang urang baik. Kebiasaan belajar anatara lain : (i) belajar pada akhir semester, (ii) belajar tidak teratur, (iii) menyia-nyiakan kesempatan belajar, (iv) bersekolah hanya untuk bergengsi, (v) datang terlambat bergaya pemimpin, (vi) bergaya antan seperti merokok,sok menggurui teman lain, (vii) bergaya minta belas kasihan tanpa belajar. Pemberian penguat dalam keberhasilan belajar dapat mengurangi kebiasaan kurang baik dan membangkitkan harga diri siswa.

11. Cita-cita Siswa
           
Dalam rangka tugas perkembangan, pada umumnya setiap anak memiliki suatu cita cita dalam hidup.      Cita-cita merupakan motivasi intrinsik. Tetapi adakalanya “gambaran yang jelas” tentang tokoh teladan bagi siswa belum ada. Akibatnya siswa hanya berperilaku ikut-ikutan. Cita-cita intrinsik perlu dididikan. Didikkan memiliki cita-cita harus dimulai sejak sekolah dasar. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi, maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri.

B. Faktor – Faktor Ekstern Belajar

            Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsik siswa. Disamping itu proses belajar juga dapat terjadi, atau menjadi bertambah kuat bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktivitas belajar dapat meningkat bila proses pembelajaran disusun dengan baik. Faktor – faktor ekstern tersebut adalah sebagai berikut :

1. Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar
           
Guru adalah pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya tetapi menjadi pendidik generasi muda bangsanya. Sebagai pendidik ia memusatkan pada kepribadian siswa ,khususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar.
           
Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi guru bidang studi tertentu. Sebagai seorang diri ia juga mengembangkan diri menjadi pribadi yang utuh. Sebagai seorang diri yang mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan hidup sebagai manusia.Dengan penghasilan yang diterimanya tiap bulan ia dituntut berkemampuan hidup layak sebagai seorang pribadi guru. Ada perilaku norma, nilai, sub kebudayaan lokal yang masih harus dipelajari oleh guru yang bersangkutan. Disatu pihak, guru mempelajari perilaku budaya wilayah tempat tinggal bertugas. Di lain pihak, pada tempatnya warga masyarakat perlu memahami dan menerima guru sebagai pribadi yang sedang tumbuh. Guru adalah seorang yang belum sempurna.
            Guru juga menumbuhkan diri secara profesional. Ia bekerja dan bertugas mempelajari profesi guru sepanjang hayat. Hal-hal yang dipelajari oleh setiap guru adalah:
  1. Memiliki integritas moral kepribadian
  2. Memiliki integrasi intelektual berorientasi kebenaran
  3. Memiliki integrasi religius dalam konteks pergaulan masyarakat majemuk
  4. Mempertinggi mutu keahlian bidang studi dengan ilmu pengetahuan , teknologi dan seni.
  5. Memahami, menghayati, dan mengamalkan etika profesi guru
  6. Bergabung dengan asosiasi profesi, serta ;
  7. Mengakui dan menghormati martamabt siswa sebagai klient guru

Mengatasi masalah-masalah keutuhan secara pribadi dan pertumbuhan profesi sebagai guru merupakan pekerjaan sepanjang hayat. Adapun tugas pengelolaan pembelajaran siswa tersebut meliputi hal –hal berikut :
  1. Pembangunan hubungan baik dengan siswa
  2. Menggairahkan minat, perhatian, dan memperkuat motivasi belajar
  3. Mengorganisasi belajar
  4. Melaksanakan pembelajaran secara tepat
  5. Mengevaluasihasil belajar secara jujur dan objektif
  6. Melaporkan hasil belajar siswa kepada orang tua siswa yang berguna bagi orientasi masa depan siswa.

2. Prasarana Dan Sarana Pembelajaran
           
Prasarana pembelajaran meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olahraga, ruang ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, bacaan belajar, alat dan fasilitas laboratorium sekolah, dan berbagai media pembelajaran lainnya. Lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Prasarana dan sarana proses belajar adalah barang mahal.
           
Barang-barang tersebut dibeli dengan uang pemerintah dan masyarakat. Maksaud pembelian tersebut adalah intuk epermudah siswa belajar. Dengan tersedianya prasarana belajar berarti menuntut guru dan siswa untuk menggunakannya.
Peran Guru adalah :
1. memelihara, mengatur prasarana untuk menciptakan suasana belajar menggembirakan
2. memelihara dan mengatur sasaran pembelajaran yang berorientasi pada keberhasilan siswa belajar.
3. Mengorganisasi belaara siswa sesuai dengan prasarana dan sarana secara tepat guna.

Peran siswa sebagai berikut :
1. ikut serta dan berperan aktif dalam pemanfaatan prasarana dan sarana secara baik
2. ikut serta dan berperan aktif dalam pemanfaatan prasarana dan sarana secara tepat guna.
3. menghormati sekolah sebagai pusat pembelajaran dalam rangka pencerdasan kehidupan generasi muda bangsa.

3. Kebijakan Penilaian
           
Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau untuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja siswa tersebut, proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian. Dengan penilaian yang dimaksud adalah penentuan sebagai sesuatu dipandang berharga, bermutu, atau bernilai datang dari orang lain.
           
Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah sswa. Hasil belajar juga merupakan hasil proses belajar atau proses pembelajaran. Pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru. Dari siswa, hasil belajar merupakan “tingkat pra-belajar” . “Tingkat perkembangan mental” tersebut terkait dengan bahan pelajaran. Secara menyeluruh proses belajar berjalan dalam beberapa tahun sesuai dengan jenjang sekolah.
           
Hasil belajar dinilai dengan ukuran-ukuran guru , tingkat sekolah dan tingkat nasional. Dengan ukuran-ukuran tersebut , seorang siswa yang keluar dapat digolongkan lulus atau tidak lulus. Keputusan tentang hasil belajar merupakan puncak harapan siswa. Secara kejiwaan siswa terpengaruh atau tercekam tentang hasil belajarnya. Oleh karena itu sekolah dan guru diminta berlaku arif dan bijak dala menyampaikan keputusan hasil belajar.

4. Lingkungan Sosial Siswa di Sekolah
           
Siswa-siswa disekolah membentuk suatu lingkungan pergaulan, yang dikenal sebagai lingkungan sosial siswa. Dalam lingkungan sosial tersebut ditemukan adanya kedudukan dan peran tertentu.
           
Tiap siswa berada dalam lingkungan tersebut sosial siswa disekolah. Ia memiliki kedudukan dan peranan yang diakui oleh sesama. Pengaruh lingkungan sosial tersebut berupa hal-hal berikut :
1. Pengaruh kejiwaan yang bersifat mnerima atau menolak siswa, yang akan berakibat memperkuat atau memperlemah konsentrasi belajar.
2. Lingkungan sosial mewujud dalam suasana akrab, gembira, rukun dan damai atau dalam keadaan sebaliknya yaitu keadaan perselisihan yang berakibat saling menyalahkan dsb.
3. Lingkungan sosial siswa di sekolah atau juga dikelas dapat berpengaruh pada proses belajar siswa.

5. Kurikulum Sekolah
           
Program pembelajaran di sekolah mendasarkan diri pada suau kurikulum. Kurikulum yang di berlakukan sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau suatu kurikulum yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan. Kurikulum sekolah berisi tujuan pendidikan, isi pendidikan, kegiatan belajar mengajar dan evaluasi.
           
Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyarakat. Kemajuan masyarakat didasarkan suatu rencana pembangunan lima tahunan yang dinerlakukan oleh pemerintah. Perubahan kurikulum sekolah menimbulkan masalah-masalah yaitu :
1. Tujuan yang akan dicapai mungkin berubah
2. Isi pendidikan berubah
3. Kegiatan belajar mengajar berubah
4. Evaluasi berubah
            Perubahan kurikulum tidak hanya menimbulkan masalah bagi guru dan siswa, tetapi juga petugas pendidikan dan orang tua siswa.

C. Cara Menentukan Masalah-Masalah Belajar
           
Program pembelajaran merupakan hal yang kompleks. Kekompleksan itu terentang dari : (i) konstruksi kurikulum dan pemberlakuan kurikulum dari sekolah, (ii) tugas guru menyusun, melaksanankan, dan mengevaluasi program pembelajaran, (iii) Peran siswa dalam proses belajar yang sesaui kurikulum yang berlaku.
            Belajar disekolah terkait dengan hal. Dalam bertindak belajar, siswa berhubungan denga guru, bahan belajar, pemerolehan pengetahuan dan pengalaman , dan tata kerja evaluasi belajar. Disamping itu siswa secara intern menghadapi disiplin, kebiasaan, dan semangat belajarnya sendiri.
            Siswa yang belajar disekolah merupakan akibat dari program pembelajaran guru. Guru berkepentingan untuk mendorong siswa aktif belajar. Dengan demikian sebagai generasi muda bangsa guru berkewajiban mencari dan menemukan masalah-masalah belajar yang dihadapi oleh siswa.

1. Pengamatan Perilaku Siswa

            Sekolah merupakan pusat pembelajaran. Guru bertindak menjelaskan, siswa bertindak belajar. Tindakan belajar tersebut dilakukan oleh siswa. Dengan kata lain perilaku beajar merupakan “gejala belajar” menurut pengamat. Sedangkan tindak belajar atau proses belajar merupakan “gejala belajar” yang dialami dan dihayati oleh siswa.

            Peran pengamatan perilaku belajar dilakukan sebagai berikut :

1. Menyususn rencana pengamatan, seperti tindak belajar berkelompok atau belajar sendiri, atau yang lain.
2. Memilih siapa yang akan diamati, meliputi beberapa orang siswa.
3. Menentukan berapa lama berlangsungya pengamatan, seperti dua,tiga, atau empat bulan.
4.Menentukan hal-hal yang akan diamati ,seperti cara siswa membaca , cara menggunakan media belajar, prosedur ,dan cara proses belajar sesuatu.
5. Menafsirkan hasil pengamatan.

2. Analisis Hasil Belajar

            Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar setiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian yang berwujud karya atau benda. Bagi guru hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan perbaikan tindak untuk mengajar dan evaluasi. Bagi siswa hasil belaar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut.

            Analisis hasil belajar siswa merupakan pekerjaan khusus. Hal ini pada tempatnya dikuasai dan dikerjakan oleh guru. Dalam melakukan analisis belajar pada tempatnya guru melakukan langkah-langkah :
1. Merencanakan analisis sejak awal semester.
2. Merencanakan jenis-jenis pekerjaan siswa yang dipandang sebagai hasil belajar.
3. Merencanakan jenis-jenis ujian dan alat evaluasi.
4. Mengumpulkan hasil belajar siswa
5.Melakukan analisis secara statistik tentang angka-angka perolehan ujian dan mengategori karya-karya yang tidak bisa di angkakan.
6. Mempertibangkan hasil pengamatan pada kegiatan belajar siswa.
7. Mempertibangkan tingkat kesukaran bahan ajar bagi kelas
8. Memperhatikan kondisi-kondisi ekstern yang berpengaruh dalam belajar.
9. Guru juga melancarkan suatu angket evaluasi pembelajaran pada siswa menjelang akhir semester.

3. Tes Hasil Belajar

            Pada penggal hasil belajar dilancarkan tes hasil belajar. Adapun jenis yang digunakan uunya digolongkan sebagai tes lisan dan tes tertulis.Tes Lisan memiliki kelebihan, yaitu (i) penguji dapat menyesuaikan bahasa dengan tingkat daya tangkap siswa, (ii) pengui dapat mengejar penguasaan siswa tentang pokok bahasan tertentu, (iii) siswa dapat melengkapi jawaban tes lebih leluasa. Kelemahannya adalah (i) penguji dapat terjerumus pada kesan subjektif atasa perilaku siswa, (ii) memerlukan waktu yang lama.

            Tes tertulis memiliki kelebihan. Kelebihannya adalah (i) penguji dapat menguji banyak siswa dalam waktu terbatas, (ii) objektivitas pengerjaan terjamin dan mudah diawasi, (iii) penguji dapat menyusun soal-soal yang merata pada tiap pokok bahasan, (iv) penguji dengan mudah dapat menentukan standar penilaian, (v) dalam pengerjaan, siswa dapat memilih menjawab urutan soal sesuai kemampuannya. Kelemahannya adalah (i) penguji tidak sempat memperoleh penjelasan tentang jawaban siswa, (ii) rumusan pertanyaan yang tak jelas menyulitkan siswa, (iii) dalam pemeriksaan dapat terjadi subjektivitas penguji.

            Tes esai memiliki kelebihan. Kelebihannya adalah (i) penguji dapat menilai dan meneliti kemampuan siswa bernalar, dan (ii) bila cara memberi angka ada kriteria jelas maka dapat menghasilkan data objektif. Kelemahannya adalah (i) objektivitas pengerjaan dan pebinaan sukar dilakukan.

            Tes objektif memiliki kelebihan. Kelebihannya adalah (i) penguji dapat membuat soal yang banyak dan meliputi semua pokok bahasan, (ii) pemeriksaan dapat dilakukan secara objektif dan tepat, (iii) siswa tak dapat berspekulasi dalam belajar, serta (iv) siswa yang tak pandai menjelaskan dengan bahasa yang tidak terhambat. Kelemahannya adalah (i) kemampuan siswa bernalar tidak tertangkap, (ii) menyusun tes memakan waktu lama (iii) memakan dana besar, (iv) siswa yang pandai menerka jawaban dapat keberuntungan,dan (v) pengarsipan soal sukar dan memungkinkan kebocoran.

            Tes hasil belajar adalah alat untuk membelajarkan siswa. Meskipun demikian keseringan penggunaan tes tertentu akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Artinya, testertentu akan membentuk jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik tertentu. Tes belajar dapat digunakan untuk (i) menilai kemajuan belajar, (ii) mencari masalah-masalah dalam belajar. Untuk mencari masalah-masalah dalam belajar, sebaiknya penyusun tes adalah tim guru bersama-sama konselor sekolah. Oleh karena itu, pada tempatnya guru profesional memiliki kemampuan melakukan penelitian secara sederhana. (Winkel, 1991 ; Biggs & Telfer, 1987.)


                           

                                                                                                    




Daftar Pustaka

Bigss , Jhon B. & Telfer, Ross. 1987. The Process of Learning.
            Sydney : Prentice-Hall of Australia Ltd.

Leftrancois, Guy R. 1985. Physcology for Teaching. Belmont
California : Wadsworth Pub. Co

Monks, pj., AMP, Siti Rahayyu Haditono. 1989. Psikologi
            Perkembangan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Rooijakers, Ad.. 1990. Mengejar Dengan Sukses. Jakarta : Gramedia.

Semiawan, Conny, (et.al). 1987. Pendekatan Keterampilan Proses.
            Jakarta : Gramedia.

Winkel, WS. 1991. Psioklogi Pengajaran. Jakarta : Grasindo.